Spring sebentar lagi bakal berakhir dan akan segera berganti dengan summer. Puluhan episode anime telah ditayangkan sepanjang musim ini untuk dinikmati oleh jutaan anime fans di seluruh dunia. Nah, apa saja anime-anime yang telah saya tonton di musim ini? Dan bagaimana kesan saya? Berikut Spring 2011 impression post.

Series:
30-sai no Hoken Taiiku
Awalnya saya cukup pesimis dengan anime satu ini. Dengan berat hati saya menonton beberapa episode awal, dan hasilnya ternyata anime ini lumayan mendidik. Di luar dugaan endingnya bisa dibilang bagus; bahagia dan sedih secara bersamaan. Dan saya tidak bercanda, cobalah anda saksikan sendiri.

Ano Hi Mita Hana no Namae o Bokutachi wa Mada Shiranai
Anime yang telah membuat heboh sejak episode pertama. OMG TEH BEST DRAMA ANIMMEH EVARR BAWW LOLOL!!!!11 begitu yang mereka ucapkan saat menyaksikan episode pembuka. Apa mau dikata ternyata segalanya berjalan tidak begitu sesuai dengan yang saya harapkan. Beberapa episode memang cukup bagus menampilkan kesan emo remaja namun secara keseluruhan anime ini hanya terpusat kepada satu karakter hantu/makhluk halus, dengan kata lain Menma-centric. Saya malah lebih penasaran dengan bagaimana hubungan para karakternya (yang masih hidup) daripada Menma. Apakah Yukiatsu adlah seorang gay? Apakah Anal bakal menemani om-om di akhir cerita? Apakah Poppo pernah mampir ke Indonesia? Kita tidak bakal pernah tahu :(

Ao no Exorcist
ups salah
Agak mengejutkan bagi saya, ternyata Ao no Exorcist lebih menarik dari yang saya duga. Walaupun dipenuhi oleh segala trope-trope anime shonen pada umumnya yang klise, Ao no Exorcist tetap menyenangkan buat ditonton di waktu santai. Biarpun begitu saya tidak yakin apakah bakal meneruskan menonton anime ini hingga akhir.

[C] The Money of Soul and Possibility Control
MACROMICROMEZZOFLATION DIRECT AGIDYNE SCORCHED EARTH BLIZZAGA A-A-A-A-ANGEL HYPER BEAM OVERHEATED ECONOMY YOU HAVE GAIN. Ternyata pada akhirnya saya sama sekali tidak mengerti anime apa ini sebenarnya. Satu-satunya yang membuat saya menonton C adalah pertarungan super lebay para Trainer Enterpreneur dengan menggunakan Persona Asset mereka. Didampingi dengan visualisasi Financial District yang menarik walaupun tidak begitu istimewa. Satu hal lagi dari anime ini yang membuat otak saya mengeluarkan bau hangus adalah bagaimana endingnya begitu membingungkan dan tidak jelas.

Deadman Wonderland
Terus terang saya tidak begitu kagum dengan adaptasi anime Deadman Wonderland ini. Mungkin sebagian besar karena saya sudah tahu bagaimana plotnya akan mengarah kemana. Tapi mau didrop pun sudah tanggung, mau tidak mau akan saya tonton sampai habis.

Denpa Onna to Seishun Otoko
Saya bingung apa yang membuat saya terus menantikan anime ini tiap minggu. Yang jelas bukan karena plot, plot hampir sama sekali tidak eksis di Denpa Onna. Mungkin karena (lagi-lagi) karakternya yang memiliki desain yang kawaii uguu? Atau karena ini anime bikinan SHAFT? Yang jelas tiap episodenya terasa begitu ringan sehingga tak sulit untuk menyisakan waktu sekitar 25 menit tiap malam Sabtu untuk menikmati Denpa Onna.

Fireball Charming
Drossel-ojousama, Drossel-ojousama. Anime singkat berdurasi 2 menitan yang entah kenapa memiliki daya tarik misterius (charming ?) sehingga saya selalu tak lupa mengikuti anime yang satu ini sejak season satunya. Yah Walaupun saya awalnya agak kecewa dengan perubahan desain karakternya (saya lebih suka dengan desain Drossel di S1-nya).

Hanasaku Iroha
Satu lagi anime yang bisa dikategorikan ringan sehingga bisa dinikmati kapan pun dimana pun. Ya, terkadang Ohana sebagai karakter utama telihat terlalu memaksakan diri sehingga terkesan idiot dan hal itu tak jarang agak menjengkelkan buat saya. Semoga di sisa episodenya Hanasaku Iroha tetap mengutamakan unsur ringan ini dan tidak memaksakan diri untuk membangun drama yang tidak masuk akal.

Nichijou
Ahh Nichijou. Sebagai anime yang berpusatkan kepada interaksi karakternya yang konyol Nichijou bisa dibilang sukses. Meskipun begitu terkadang ada lelucon-lelucon yang tidak bisa ditranslasikan karena perbedaan budaya. Untungnya Nichijou tidak terpusat hanya kepada 3 atau 4 karakter saja seperti anime-anime pendahulunya. Banyak karakter-karakter unik yang masing-masing menampilkan kelucuan yang berbeda. Definitely worth watching.

Steins;Gate
Steins;Gate adalah anime yang paling saya tunggu-tunggu tiap minggunya. Disamping plotnya yang menjanjikan (Mado Scientisto vs Evil Organization), para karakternya juga memilki kepribadian yang menarik. Saya tak pernah terbosankan dengan tingkah Okarin tiap episodenya. Steins;Gate jelas merupakan salah satu calon anime terbaik 2011 bersaing dengan *uhuk*Madoka*uhuk*.

The World God Only Knows II
Ya, saya masih mengikuti TWGOK. Meskipun tidak ada hal yang baru di animenya tapi hal tersebut malah entah kenapa membuat saya tetap tertarik buat menontonnya. Melihat para heroine dari manganya yang kini dianimasikan dan disuarakan membuat saya selalu semangat mengikuti TWGOK.

Tiger & Bunny
Saya baru mulai nonton Tiger & Bunny sekitar akhir minggu lalu karena kebosanan yang akut. Dan ternyata lebih bagus dari yang saya harapkan. Siapa yang menduga kalau anime mengenai superhero dengan kostum norak yang tampil di acara reality show dapat diadaptasi dengan menarik. Salut buat Sunrise (dan sponsor-sponsornya) atas anime yang satu ini

Yondemasu yo, Azazel-san
Lagi-lagi anime yang awalnya saya tidak berniat menontonnya. Berkat salah satu thread di Kaskus akhirnya saya memutuskan untuk menonton anime ini di awal musim lalu. Saya mengira anime ini hanya anime konyol biasa berisi karakter yang membuat lelucon - lelucon bodoh. Dan ternyata memang benar, ini adalah anime konyol berisi karakter yang melontarkan guyonan bodoh. Tapi ini konyol disini bukan konyol biasa, mungkin saya bisa membandingkan dengan (dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada Krauser-san) Detroit Metal City. Saya serius.

OVAs:
Koe de Oshigoto! (Episode 2)
Masih seperti episode 1, tidak ada yang istimewa.

Nana to Kaoru
Lumayan.

Katte ni Kaizou
SHAFT, Shinbo dan Kumeta-sensei. God-tier voice casts. Things can't go wrong, right?

Closing Words
Pada preview Spring kemarin saya membagi beberapa anime yang akan saya tonton menjadi tiga tahap:

1st Tier
Deadman Wonderland
Nichijou
Nana to Kaoru

2nd Tier
Denpa Onna to Seishun Otoko
Tiger and Bunny
The World God Only Knows II
Steins;Gate
[C] The Money of Soul and Possibility Control

3rd Tier
Hanasaku Iroha
Hen Zemi
Hidan no Aria
Tono to Issho
Ao Exorcist
Moshidora
Ano Hana
Sket Dance
Dororon Enma-kun

Ternyata anime di 2nd tier malah lebih berpotensi dari 1st tiernya. Anime-anime 3rd tier seperti Moshidora, Hidan no Aria dan Hen Zemi saya drop di episode awal karena kurang menarik. Dan ada beberapa anime di luar perkiraan saya seperti Yondemasu yo, Azazel-san dan 30-sai yang tidak saya masukkan di preview namun malah saya ikuti.

Secara umum, Spring 2011 adalah season yang luar biasa menghibur. Jika dibandingkan dengan Winter 2011 dimana saya praktis hanya mengikuti 4 judul anime, di musim ini ongoing anime yang saya ikuti melonjak menjadi 13 judul. Dan lagi banyak dari anime yang saya ikuti musim ini memiliki 24-26 episode sehingga masih berlanjut ke summer. Ngomong-ngomong summer saya belum memposting summer preview, draftnya sudah hampir selesai jadi tinggal tunggu saja waktu yang tepat.

Demikianlah kesan atau impresi saya mengenai anime Spring 2011. Season yang cukup memorable karena berisi deretan judul-judul yang fantastis. Tentu saya harapkan musim-musim depan bakal jauh lebih bagus lagi. Bye!
WE'VE ENTERED AN ENDLESS RECURSION OF TIME
Sweet mother of god. Poor Mayushii keep dying over and over again. And her last death is... very painful. I can't believe Nao killed her. Looks like it ain't easy to change one's fate, let alone the fate is death itself.

On a very unrelated news, Rune Factory series is making its way to 3DS! And it will be Rune Factory 4! Brace yourself for more waifu, mates!
Well Ano Hana finally ended. I can't say I was satisfied with the ending. It was not that bad, just I thought they could make it more, err, tearjerking. I was expecting the ending to be able to  make my eyes at least a bit teary. But no, I didn't even feel sad like usual. I really think with all the plot they build from the previous 10 episodes they could make the ending more impactful. Instead the characters just sat there and cried. And then laughed. And cried again. And they played hide and seek. And suddenly KIMI TO NATSU NO OWARI. Credit rolled. Hell, even /a/ could write a better scenario. That being said, Ano Hana is still a rather enjoyable anime if you're into teen drama and don't mind with supernatural stuff (what the hell am I saying). Otherwise I'm not really recomend it though.

>mfw they all went "Menma mou ikkai mou ikkai? Watashi wa kyou mo korogarimasu"
Mayuri ;_;
Shit just got fucking real. That last part of the episode... it sent chills down on my spine. I knew that something was going to happen... yet I still like *gasp* when Mayuri got shot.

Looks like we've reached the turning point in the plot. Things will get more serious after it or is it? Anyway we've another week before the next episode will be aired. Damn.

anon is that you
So I finally able to catch up with [C] after marathoning it up to episode 10. I believe the next episode is the last, that make this anime 11 episodes long. And my impression so far it's good and entertaining.

The story is no ordinary one as expected from a noitaminA anime. The story is rather depressing in my opinion. Lose the "deal" and your future will be taken. That's what happen to the teacher and that cool guy from episode 6. I kinda like this whole "saving Japan" thing near the end, which remind me of Higashi no Eden.

Honestly I don't really get what actually happened in this anime. There're much things that don't get explained that made me confused as soon as I watched the first episode. They do fight and stuffs and somehow it's related to Japanese economics. That's what I understand so far. And I still don't know who the actual villain is. Is it Mikuni? Or is it Masakaki?

Well despite all the plot holes [C] is rather entertaining. Even though it can be confusing at times but I can still enjoy the fight and oh the drama. There's always something to look forward every episode. Plot? The hell with it.
I'm glad we finally get to see Misato in action again. We haven't see her and Sasahara for a while. This episode is rather a funny one. There's always Yukko who got trolled (as usual). Even a dog feels sympathy for her.

And with this episode we reached the halfway mark to this 24-episode anime. Summer is not that bad at all.
Awesome episode as usual. Ack and a frickin' cliffhanger ending too!

Looks like they wanna try another crazy experiment again. This time it's memory transfer to the past. Holy shit that would be awesome if I could do that. I mean, I could anwer all those exam question in no time! I would become the smartest human being! I could predict Osama's death! Hell, I could even prevent myself from buying any of AMD products... wait never mind that.

Kurisu(tina) was so damn cute in this episode. I chuckled a lot during her conversation with Okarin about @channel. There were several points that I hope will get answered next episode because I can't fuckin' wait (Cristina is SERN spy? Her father was a real mad scientist? SERN knew all their experiment all this time? Is Nae actually Recette? Darn)
Popularitas dari game-game indie belakangan makin menanjak. Mereka yang dulunya hanya eksis di PC kini merambah ke konsol yang memiliki konektivitas online seperti Xbox 360 dengan XBLA dan Playstation 3 dengan PSN-nya. Namun tentu saja game-game indie masih tidak melupakan asal usulnyanya yakni PC. Ini dapat dilihat dari jumlah game indie yang lebih banyak 'bersarang' di PC dan kebanyakan gratis alias tidak perlu bayar. Game-game indie juga telah memasuki platform handheld dan mobile, seperti Angry Birds.

Braid (2009), Jonathan Blow
Game indie dapat didefinisikan sebagai game yang dikembangkan baik oleh seorang individu maupun tim yang independen tanpa didukung oleh adanya dana dari publisher. Karena hal itu, developer game indie bebas mengembangkan game mereka sesuai dengan kreativitas tak terbatas beda halnya game-game komersil pada umumnya dimana publisher terkadang membatasi developer sesuai dengan kemauan mereka. Developer game indie biasanya terdiri dari tim kecil atau bahkan hanya satu orang dan memiliki bujet yang tidak terlalu besar. Mereka tidak bergantung kepada kucuran dana publisher sehingga game indie kebanyakan didistribusikan secara online via digital distribution.

Game-game indie umumnya dikenal dengan inovasi dan kreativitasnya. Game-game indie kadangkala ada yang sama sekali jauh dari kesan konvensional. Hal ini dapat dilihat dari game-game seperti Crayon Physics Deluxe, Yume Nikki atau VVVVVV. Game indie juga jarang memiliki grafis 3D yang mewah seperti halnya game-game pada umumnya. Namun hal itu ditutupi oleh tampilan visual yang artistik dan gameplay yang inovatif. Genre-genre dari game indie yang umum biasanya adalah puzzle, platforming, dan adventure. Namun ada juga genre lain seperti RPG, FPS, atau bahkan ultimate sandbox seperti halnya Minecraft.

Machinarium (2009), Amanita Design
Salah satu hal yang membuat indie game begitu menarik adalah bagaimana sebuah game itu diciptakan dengan tujuan menghibur gamer yang memainkannya, karena pada dasarnya itulah tujuan kita bermain game. Namun belakangan ini kita bisa melihat bagaimana industri game telah berkembang pesat, dimana perputaran uang begitu cepat sehingga acap kali membuat para publisher-publisher besar menutup mata demi meraup keuntungan yang sebesar-besarnya dari para fans. Salah satu contoh yang bisa saya berikan adalah franchise The Sims, dimana awalnya merupakan game yang berkualitas kini semakin lama semakin jauh dari kesan itu dikarenakan EA tak habis-habisnya merilis expansion pack yang jumlahnya begitu banyak.

Secara teori developer lah yang memegang kuasa atas pengembangan sebuah game. Namun kenyataannya tak jarang publisher turut ikut campur dan bahkan mengekang kebebasan sang developer dalam berkarya. Nah dalam dunia game indie hal tersebut tak terjadi. Seorang developer indie bebas mengutarakan ekspresi mereka ke dalam game yang mereka buat. Tak jarang mereka berani mengambil resiko dalam pengembangan gamenya dimana hal tersebut jarang terjadi di game non-indie. Ambil contoh game Minecraft. Game yang telah dimainkan oleh lebih dari 9 juta orang ini (dan bahkan gamenya masih versi beta!) adalah buah karya dari sang developer Markus "Notch" Persson yang berani bereksperimen dengan gamenya. Game seperti halnya Minecraft ini mungkin tidak bakal terpikir oleh perusahaan game yang hanya mementingkan keuntungan semata (game dengan grafis retro kotak-kotak? apakah itu akan terjual?).

Super Meat Boy (2010), Team Meat
Seperti yang saya utarakan di awal tadi popularitas game indie semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat dari komunitas game indie di dunia maya yang makin lama makin menjamur. Selain itu event-event seperti Indie Games Festival dan Indiecade juga turut mengangkat kepopuleran game indie. Di event-event tersebut lah game-game indie mendapatkan apresiasi baik dari kalangan kritikus maupun gamer. Banyak game-game indie yang berhasil merebut penghargaan di event IGF kini mendapat perhatian di kalangan gamer.

Saya sendiri baru mulai menyadari betapa mengesankannya game-game indie pada 2010 lalu. Game yang pertama saya mainkan ialah Recettear. Saya pun mulai melakukan riset di internet mengenai indie game dan menemui berbagai macam game-game luar biasa seperti World of Goo, Machinarium, dan Braid yang belakangan jadi favorit saya. Saya umumnya menyukai game indie karena gameplaynya yang menantang serta adiktif dan yang utama: tidak memerlukan spesifikasi komputer yang tinggi. Ya, kebanyakan game indie memang tidak membutuhkan kommputer super untuk menjalankannya. Game-game indie juga tidak memakan space HDD yang besar, rata-rata hanya memerlukan seratusan MB.

Di Indonesia sendiri perkembangan game indie sayangnya masih belum begitu pesat. Namun ada juga yang sudah menerbitkan game secara komersil seperti Etherean Guardian dengan Ethernal Grace-nya. Selain dari itu game indie Indonesia masih didominasi oleh game-game flash yang dihost ke berbagai website game flash. Tapi jangan salah, cukup banyak developer game flash Indonesia yang sudah bekerja tetap di perusahaan-perusahaan game asing. Hal ini tentunya cukup membanggakan.

Cave Story (2004), Studio Pixel
Berikut adalah kutipan dari sebuah majalah game yang pernah saya baca: "Sebuah indie game yang baik tidak pernah diciptakan untuk sebuah demografik, game-game ini diciptakan dengan semangan dari pihak developer, sebuah semangat yang mampu mempengaruhi pemain ketika sedang bermain game tersebut."

Ya, industri game indie akan semakin terus berkembang dan kualitas game-gamenya pun akan semakin meningkat bahkan mungkin suatu saat nanti akan disejajarkan dengan game-game kelas dunia dari Blizzard, Valve ataupun Microsoft. Maju terus industri game indie!

NB: Nantikan tulisan berikutnya mengenai rekomendasi game-game indie yang patut anda mainkan. Stay tune.
Yume Nikki is a psychological adventure game created by a Japanese guy named Kikiyama in 2005. It was developed using RPG Maker software. In this game you will assume the role of Madotsuki, a hikkikomori girl who lived in a small apartment. There is very little to do in your room but playing a SNES game called NASU (which is as depressing as this game itself) or Madotsuki can call it a day and go to bed to have some nice dreams. Then the entire dream world is yours to explore. Of course that's not all.

Yume Nikki is not your typical video game. It has dark, surrealic atmosphere that can be quite frightening. The dream world consists of 12 different areas. These areas themselves also divided to several other places. These places are meant to be explored by Madotsuki. The objective of Yume Nikki is to collect 24 pieces of "Effect". These so called Effects are scattered all across the dream world. Some effects have advantage usage such as Bicycle (which can make you travel faster), Knife (to kill creatures), or Lamp (to brighten the area).

When I first played Yume Nikki I was confused as hell. I didn't know what to do because this game had no proper manual. Just a brief instruction that made it even more confusing. Getting lost in this game is easy as cake. But once I got there it was really a well deserved experience. I love that feeling when I discovered a whole new place that I've never been there before.

There is no actual background story in Yume Nikki. All is left open to fans intepretation. There is also no dialogue. Even the ending was so ambiguous. The strange and creepy places were filled with various nonsensical NPCs like Toriningen, Eyeball, and Uboa. Somehow the surreal atmosphere in Yume Nikki reminds me of one in Cat Soup OVA.

Despite being an unfinished indie game, Yume Nikki has gained a massive cult following both in Japan and Western. It spawned a lot of theories and fanarts regarding the story of this game. Hell, they even created an Yume Nikki-exclusive imageboard. Even though Yume Nikki's popularity is like skyrocket, too bad that we never heard anything from Kakiyama since 2007. Fortunately there are several fan made games that can be considered as spiritual successor of Yume Nikki. Some of the most popular games are Yume 2kki and .flow.

Yume Nikki has one of the best fanart
Conclusion
For me, Yume Nikki is more like an experience rather than a game. It was truly a great game for those who itching to have an adventure in a strange world that haven't been imagined before.

Gameplay: 4/5
Story: 1/5
Visual: 4/5
Audio: 3/5
Replayability: 5/5

Extras:

Download link
Much better review
Uboachan
Speculah
Ahh another great episode of Steins;Gate. This is just what I needed after a long week full of mindbending tests. Steins;Gate has continued to provide us a great combination of sci fi, mistery, humour, and even romance. I nyohoho'd at Okarin groped Ruka. Nice try bro. Also Mayuri's 'flat is justice' line was priceless. And I swear by god, Kurisu's voice is so hot. Her VA really should get more roles.
Poor Yukko. Why she is always the one who got trolled, even by a mere baseball player. My favorite part in this episode is how Hakase pretended to be an older sister and how Sakamoto-san handled the situasion after that.
Cat Diary is a comedy manga about cats from Junji Ito. As you may know, Junji Ito is one of the most famous horror mangaka who created some frightening stories such as Uzumaki, Gyo, and my favorite one Enigma of Amigara Fault. One day I discovered a manga called Cat Diary which was kindly translated by /a/non scanlation and DKThias. It made me wonder, "Junji Ito? Created a comedy manga? About cats? I can't imagine". Then I gave it a chance to read this afternoon.

Cat Diary followed a story of a man called J-kun (obviously his own name) who was a mangaka. One day his wife A-ko brought a cat named Yon from her parents' house. This cat has a really scary face. J-kun was not very amused because he wasn't a cat-person. Another day his wife decided to adopt another cat and named him Muu. Thus the story began. (You see, this is Junji Ito's true story of his life. There were even the real pictures of Yon and Muu.)

I can say that this manga is actually funny. But the fact that Junji Ito has more experience in horror manga affected my mind a lot when reading this manga (also those cats' faces were terrifying). I was kinda traumatized from Junji Ito previous works so I can't really enjoy this manga at the fullest. But yeah, it is funny. And the cats are cute. Go ahead, read it. It won't take too much your time. It took me only about 15 minutes to read the whole volume. Oh and I hope Ito-sensei create more works like this in the future.

VOCALO.ID adalah sebuah album kompilasi Vocaloid pertama yang dihasilkan oleh para produser Vocaloid Indonesia yang berasal dari forum Voca Post. Album ini merupakan buah hasil dari event di forum tersebut dimana karya para peserta yang terpilih (baca: menang) akan dikompilasikan ke dalam sebuah album. VOCALO.ID dirilis secara cuma-cuma pada 5 Juni (hari ini) dan didistribusikan via online yang dapat didownload melalui link diatas. Album ini berisi 14 buah track yang terdiri dari tiga bahasa, Indonesia, Inggris, dan Jepang. Jadi bisa dibilang ini adalah sebuah album Vocaloid trilingual pertama di dunia!

Well terus terang saya sangat bangga dengan kehadiran album ini. Ini membuktikan kalau komunitas Vocaloid di negeri ini tidak kalah dengan yang di luar sana. Saya harap album ini dapat memompa semangat para talenta-talenta berbakat lainnya agar dapat berkarya lebih kreatif lagi. Semoga album ini dapat dengan sukses memperkenalkan Vocaloid kepada masyarakat Indonesia yang mungkin masih awam mengenai hal ini. Dan semoga ke depannya musik Vocaloid dapat diterima secara mainstream disini dan lebih-lebih dapat mencerahkan belantara musik tanah air yang belakangan ini tampak makin suram. Bukan tidak mungkin nantinya bakal ada konser live Hatsune Miku di Indonesia!

Oke sekian saja dari saya dan nantikan review album ini dalam beberapa hari ke depan hanya di MINORU'S BLOG. Bye~

VOCALO.ID Fan Page
Rekap wawancara dengan Vocaloidism
Event di forum Voca Post
...or should I say, Emo Hana?
;_;
Well the recent episode presented us some surprise (Menma showed her presence with her diary), not so surprise (Anal got rejected by Jinta) and Menma's mother breakdown. A great episode indeed.

I can't believe I have to wait 'til Friday to watch the next episode. Damn you cliffhanger ending.
Whoa, that was an amazing episode. One of the best episode so far with some twists you're not expecting (and development between Okarin and Kurisu[tina]!).

So finally Okarin realized the consequences of changing the past with the D-mail. The Butterfly Effect changed the world everytime he messed with the Phone Microwave (name subject to change). And looks like Ruka already turned into a girl. Also is Moeka=Feyris from (possibly) future? Another fucked up theory that actually made sense.