Another year, another Hatsune Miku's birthday! She's got more and more popular these days, thanks to her popularity in western audience. She even held her first ever US concert several months ago. I bet it's only a matter of time until she becomes world's first virtual diva who do a world tour concert. Happy birthday Hatsune Miku, 私の歌姫!

So yeah, I'm gonna spend a whole day listening to her songs now. Also before I forgot, Eid Mubarak to you all!
>>Download<<
Sebuah proyek "iseng" anak-anak AMH Kaskus untuk membuat majalah digital seputar anime & manga (yang mana seingat saya tahun lalu gagal) akhirnya terealisasi juga dengan nama AMH Magz!

Well, nggak sepenuhnya iseng kok. Tentu saja para staff dan kontributor serius mengerjakan proyek ini. Meski masih ada kekurangan disana sini namun bisa dibilang AMH Magz! edisi pertamax ini sudah cukup bagus, fabulous malah.

Satu hal yang saya harapkan semoga proyek satu ini nggak ditelantarkan begitu saja. Jika para staff dan kontributor sudah berkomitmen untuk fokus di proyek ini kemungkinan AMH Magz! bakal terbit tiap akhir bulan, so nantikan edisi selanjutnya!

(Oh ya, jika punya id Kaskus anda bisa memberikan feedback melalui original threadnya disini)
Remember, kids, never ever treat your pets this way!
Oh my, I already forgot how much I laughed at this episode. I finally realized that Fecchan and Weboshi are interesting characters, glad to see their appearance. Also, dogs are evil (well except those two motivational dogs) and no wonder why I am a cat person.
Okarin still can't make decision of which girl he will save. That must be really hard for him. See? This is what you get when you're abusing a time travel device.
Good episode though the lack of Yukko craziness kinda disappoint me (but she has her wacky dream!). Fortunately Takasaki-sensei's delusion is worth laughing. Also, wooden cubes and tsundere sabiisu won't hurt once in a while.
You know what I like about Usagi Drop? Practically everything. But there's one thing that I adore so much in this anime: it realistically portrays what it means to be a parent. From Daikichi to Kouki's mom to Haruko, they're all different in many ways but they have one and the same purpose that is to raise their children well. And I must say in Haruko's case it was told in a very realistic way. I'm sure what happened to Haruko is not a rare case in today's society.
Actually I wanted to write a full review but suddenly I got lazy and decided to go to sleep (because it's Saturday morning). So I just repost my impression of Redline from my super awesome Tumblr:

Dude that was soooo intense. I guess everything about this movie has already been said so I’m not going further to the detail. However there’s one more thing I want to add: you don’t watch Redline for its story. Screw the plot, enjoy the mind-blowingly awesome animation. Seriously, this has to be one of the best animation in anime history to date. Coupled with adrenaline-pumping soundtracks, you got your 1hr and 40min of your life worthed it. Now why the hell are you still sitting there? Go watch it right fuckin’ now!


Okay, that's it for Redline. Oh also watch it at least in 720p. Come on, spare some of your bandwidth on this gem. I'm sure you won't regret it later. And last, here's the soundtrack. Beware, the author of this blog doesn't hold any responsibility for anything that happens to you if you listen to this while you're driving your car. At leats you've got insurance, right?
PERSONA!!
I.. wha... well shit I don't know what to say. This episode rules, especially the second half part. I nearly chocked when it happened.

So we almost near the end of Steins;Gate with only 4 more episodes. Here's hoping for an epic Kurisu finale arc. Come on, don't disappoint me White Fox.
Mad scientist + crowbar? Say hello to Mr. Gordon Freeman!
MF|MU|Torrent
Satu lagi album Vocaloid karya anak bangsa dirilis hari ini tanggal 17 Agustus 2011 bertepatan dengan HUT RI yang ke-66. Kali ini dengan membawa semangat kemerdekaan para komposer-komposer Vocaloid Indonesia itu mengaransemen ulang delapan buah lagu-lagu wajib nasional. Harus saya akui, album kali ini tidak kalah kerennya dengan album VOCALO.ID yang lalu. Beberapa lagu secara instan telah menjadi favorit saya seperti Tanah Airku dan Padamu Negri. Meskipun telah di-remix, lagu-lagu di album ini tetap memiliki karakteristik dan ciri khas yang dimiliki oleh lagu originalnya. Dan yang jelas saya sangat senang dan bangga akan kreativitas dari para kru yang turut berpartisipasi pada album ini yang berusaha menyalurkan bakat mereka dengan sesuatu yang lain dari yang biasanya. Oh ya terakhir saya ingin mengucapkan Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-66, jayalah terus Indonesia-ku.

Tracklist :
01. Mixtrelle - Rayuan Pulau Kelapa
02. REDSHiFT - Tanah Airku
03. idoyklik - Kebyar Kebyar
04. PG2125 - Satu Nusa Satu Bangsa
05. ittou - Padamu Negri
06. RikkuRorra - Indonesia Pusaka
07. Atrie - Berkibarlah Benderaku
08. Nicevibes - Indonesia Jaya (Bonus Track)
Akhir-akhir ini saya terpikat pada sebuah game indie berjudul Limbo. Limbo adalah salah satu game indie legendaris di Xbox Live Arcade yang telah lama saya penasaran ingin mencobanya namun tidak pernah kesampaian. Untunglah game ini akhirnya dirilis di juga PC via Steam pada awal Agustus lalu dan saya berkesempatan menjajal game yang telah saya nanti-nantikan sejak lama ini.

Hal pertama yang menarik perhatian pada saat memainkan Limbo adalah tampilan visualnya yang unik dimana game ini ditampilkan secara monokrom layaknya sebuah film noir. Segala hal yang ada di dalam game ini dapat dilihat hanya merupakan sebuah siluet, baik itu sang tokoh utama maupun suasana sekitarnya. Namun segala hal di game ini ditampilkan secara luar biasa detail dan begitu indah, bahkan terkadang sampai membuat saya merinding karena juga menakutkan (err istilah Inggrisnya hauntingly beautiful). Hal ini kembali mengingatkan saya pada opini "videogame adalah sebuah karya seni" yang belakangan kembali sering disuarakan oleh para gamer yang antusias.

Limbo bercerita tentang... well tentang apa saya juga bingung. Yang jelas ada seorang anak (si tokoh utama) yang terbangun di sebuah hutan. Sang anak kemudian menjelajahi hutan tersebut yang ternyata dipenuhi dengan segala macam bahaya dan teka teki. Meski sebab dan tujuan mengapa si anak bisa terdampar di hutan gelap nan menakutkan itu kurang jelas, perlahan lahan kita mulai menyadari kalau si anak sedang berada di tempat yang tidak biasa atau dengan kata lain bukanlah dunia yang kita tempati sekarang ini. Belakangan saya akhirnya tahu bahwa tujuan si anak adalah menemukan kakaknya yang entah bagaimana bisa nyasar ke tempat yang bernama LIMBO itu.

Sebagai game bergenre puzzle-platformer, Limbo berfokus kepada beberapa puzzle yang awalnya sederhana dan lama kelamaan semakin rumit. Puzzle-puzzle ini bervariasi, mulai dari yang basic seperti sorong menyorong balok hingga yang cukup kompleks dengan memanfaatkan timing loncatan ataupun gaya gravitasi (yang ini mengingatkan saya pada game indie lain berjudul VVVVVV). Terdapat juga jebakan-jebakan standar yang sering ditemukan di dalam game Prince of Persia seperti spikes atau bear traps bahkan turrets. Kita juga akan menemui beberapa musuh seperti seekor laba-laba besar (benar-benar BESAR) atau sekumpulan orang-orang gila yang berusaha membunuh si karakter utama.


Saya tekankan disini kalau game ini sangat gelap. Bukan hanya dari tampilan visualnya saja namun juga pada atmosfer dan beberapa hal yang ditemui di dalam game jelas-jelas bukan konsumsi anak di bawah umur. Sering kali si karakter utama menemui ajalnya secara brutal, seperti ditusuk oleh laba-laba raksasa, terbelah dua oleh jebakan spike atau remuk ditimpa batu besar. Di sepanjang permainan terkadang dapat ditemukan sosok mayat yang entah digantung atau menggantung diri. Dan musiknya yang minimalis disertai efek suara terkadang membuat bergidik. Oh ya saya lupa memberi tahu jika di game ini sama sekali tidak ada teks dan dialog. Kita mungkin tidak akan pernah paham apa yang sebenarnya terjadi.

Game yang cukup singkat ini terbagi-bagi dalam beberapa chapter. Tidak ada loading saat berganti chapter, kita bahkan mungkin tidak sadar ketika memasuki chapter baru. Save game dilakukan secara otomatis, terutama ketika ada puzzle di depan mata. Jika si tokoh utama mati, biasanya akan reload di tempat dimana dia terakhir berdiri. Memang dibutuhkan beberapa kali try dan error untuk dapat memahami cara kerja sebuah puzzle namun saya merasa puzzle yang ada tidak terlampau sulit.

Ada beberapa indie game yang saya kategorikan sebagai masterpiece dan kini Limbo adalah salah satunya. Feeling yang saya dapat saat bermain game ini persis seperti saat saya memainkan game indie legendaris lain yakni Braid. Memang Limbo tidak se-filosofis Braid dari segi penceritaan namun jelas dari segi estetika game ini dapat mengimbanginya. Dan ending dari Limbo yang ambigu membuat kita bebas menanggapinya sesuai intepretasi kita masing-masing (saya ketemu dengan sebuah site yang mendiskusikan ending tersebut disini spoiler alert btw).

Akhir kata, game ini layak dimainkan buat mengisi waktu luang atau sambil menunggu-nunggu waktu berbuka bagi yang muslim. Namun patut digarisbawahi puzzle yang ada cukup dapat menimbulkan frustasi jika anda tipe yang tidak sabaran. Limbo makin meyakinkan saya kalau dunia indie gaming tidak lagi bisa dipandang sebelah mata.

Beberapa screenshot lain:
 
 
Dan terakhir trailer:
So the thirteenth (lucky number!) installment in Touhou series has been released by the drunken master of the East, ZUN in C80 yesterday. I can't say I'm not hyped up about this new Touhou because I am myself is a big fan of this danmaku masochism game. I'm not gonna say anymore, if you're a Touhou fan like me you're gonna enjoying more bullet porn on this one.

My first playthrough using Youmu. Of course I failed miserably later.
(Btw you can find the game easily on some torrent sites like Tokyotosho. Or you can buy it. Use fuckin' Google dammit)
Rin is finally getting into junior school, well that was fast. Ahh this made me remember the first time I entered my elementary school, which was nothing like that. My parent didn't plant a tree when I was born too so I guee that's why I can't become a ninja. Sigh.

Oh yeah I don't know why but I kinda like Rin's mom in the anime version. In the manga I find her very unlikeable. But in the anime she's sorta cute. Of course that has something to do with Maaya Sakamoto voicing her lol.

Not so related but dammit I need to write this.
And regarding Maaya, just recently I heard this breaking news that she's got married. Man, can't you friggin' believe that. Maaya Sakamoto. Is. Fuckin. Married. With Kenichi Suzumura no less. Maaya and SuzuKen did several roles together in the past such as Aerith & Zack (FF VII), Lunamaria & Shinn (Gundam Seed), Haruhi & Hikaru (Ouran), and my favorite shipping Shiki & Mikiya (KnK). Well, talk about chemistry here. Or unmei.

Well even though I feel a little sad (and I bet my ass alfare feels the same) I also feel happy for both of them. They're surely such a cute couple. Congrats to Maaya-sama & Suzumura Kenichi on their marriage!

(I still can hear the fanboys' shaking and crying)
Hell yeah, this is the most satisfying episode so far. There are several reasons why but this picture sums it perfectly:
IT'S A PUUUUUUUUUUUUUNCH
Serves you right, bitch! Also, Okarin raep.
Moral of the day: Never take shelter in a suspicious-looking shrine, especially if you have a really bad luck.

God that temple part was seriously made my mouth dry from laughing. Another example of Nichijou goodness. Also we have a Go Soccer duel match, the manliest sport in anime history ever. They need to include this sport in olympic games. Hell, I'd watch it even if I don't know shit about the rules.
Holyshit, she's actually a fujoshi!
A bit advice for whoever called themselves an author: Failure to meet a psycho crazy fangirl's demand can lead you into your own death. Several times.



This episode is kinda tragic in one way and another. I don't get how one could kill and torture another person just because of her love with a series of book written by that person.

...Wait, I think maybe I understand her feeling. I feel the same with Usagi Drop manga. I now must threaten its author to get the perfect and rational ending.

Well, Dantalian no Shoka is proceeding smoothly and better than I expected. I kinda like the episodic format this series has. The plot isn't that brilliant but nevertheless it's interesting. Too bad only some people that actually care to watch this anime.
The cat is finally out of the bag, huh? Just as expected, he is the culprit behind Barnaby's parent murder case. I knew it because he looks very suspicious. And he is actually a NEXT. No surprise here.
I have probably already said this several times but I'll keep saying it: Usagi Drop is a very heartwarming anime. I like this warm and fuzzy feeling I got when I watched the show. It doesn't try too hard to bring up the conflict to the surface, therefore keep it at minimum level. Usagi Drop is one of those shows that you'll enjoy after a long hard day.

Anyway, that's the end of volume 2 of the manga. I love that last scene from this episode. Aww Rin y u so cute.
Oh you Okarin. Best anime opening line ever.
This is just my opinion, I think this episode is more enjoyable than the last one. I laughed wholeheartedly during Operation Valkyria. So after sent back the D-mail to his/her mom to the past, Rukako is back being a trap. Which I guess it's better be that way. Also, brofist to Daru for recommending eroge walkthrough as a date guidebok.
I can't resist myself from posting this. So guys, brace yourself for this fantastic announcement,

THE TRANSLATION FOR 10th AND 11th OF HARUHI NOVEL IS FINALLY DONE!

Go to ultimatemegax's blog and say your appreciation to all people who contributed to the project. Now I'm glad I have something to read before "berbuka puasa". Now go back to Haruhiism mode.
Sudah lama saya nggak menulis postingan tentang musik, jadi saya akhirnya nulis ini. Sebetulnya ini tulisan yang agak mengarah ke curhat sih. Kali ini saya ingin mengenalkan band bernama little by little yang mungkin namanya masih terdengar asing di telinga anda. Namun bagi saya, band beranggotakan dua orang ini  punya sejarah sendiri dalam hidup saya yang membuat saya menjadi diri saya seperti sekarang ini. Sebelumnya mohon hiraukan beberapa konotasi nan lebay yang terdapat di postingan ini.
Little by little adalah sebuah band beraliran rock (pop rock? I'm not sure) yang digawangi oleh duo Hideco sebagai vokalis dan Tetsuhiko sebagai komposer. Little by little adalah band Jepang pertama yang membuat saya terobsesi dengan musik-musik buatan mereka. Lagu mereka yang pertama kali saya dengarkan adalah 悲しみをやさしさに (Kanashimi wo Yasashisa ni) yang merupakan opening dari anime, coba tebak apa? Ya, Naruto. Mari kita semua bersama-sama untuk tidak menekankan kepada fakta kenapa saya menonton Naruto melainkan bagaimana saya bisa secara instant jatuh cinta kepada suara imut Hideco.

Saat itu kalender menunjuk tahun 2008 ketika saya mendengarkan lagu ini di televisi (dan kemudian dari handphone seorang kenalan saya). Masa-masa itu pengetahuan saya seputar Jepang masih sangat newbie, hanya sebatas manga, sedikit anime dan musisi Jepang yang saya suka hanya Utada Hikaru. Namun setelah mendengar lagu 悲しみをやさしさに saya merasakan perasaaan aneh yang belum pernah dirasakan sebelumnya, seolah pintu hati saya terbuka kepada musik-musik Jepang lainnya. Suara Hideco (dia cewek btw) yang lembut namun memiliki karakter vokal yang maskulin terasa baru bagi saya yang saat itu merupakan penganut musik aliran punk rock macam Blink-182 dan My Chemical Romance. Belum lagi aransemen gubahan sang komposer Tetsuhiko yang sangat catchy, lagu tersebut menjadi earworm selama berminggu-minggu.

Karena saking penasarannya hingga membuat saya susah tidur, bermodalkan modal tiga ribuk perak saya pergi ke warnet terdekat dan segera memasukkan keyword "little by little" di website Mbah Google. Malang bagi saya, hasil yang ada tidak akurat karena nama little by little sepertinya kurang begitu dikenal. Untungnya dengan skill stalking mengumpulkan informasi saya yang saat itu sudah lumayan di atas rata-rata tak memakan waktu yang lama hingga akhirnya saya sampai ke sebuah forum yang salah satu threadnya membahas lbl (saya singkat saja). Setelah bertanya-tanya sedikit kemudian saya sampai ke sebuah situs fanlisting khusus lbl bernama Summer Kids (website nya sudah tutup, tapi ini linknya) dan akhirnya berkenalan dan berkorespondensi dengan beberapa fans lbl lain melalui sarana e-mail. Situs fanlistingnya sendiri masih sedikit memiliki member, kira-kira sekitar 50-an orang. Dari beberapa fans itulah saya mendapat info tentang beberapa singel dan sebuah album yang dimiliki lbl.

雨上がりの急な坂道 (2004)
Sayang sekali mereka tidak bisa mengupload koleksi album lbl mereka  (mungkin masalah koneksi atau hak cipta, entahlah) namun mereka memberi tahu dimana saya bisa mengumpulkan lagu-lagu lbl. Pada jaman itu koneksi internet tidak seenak sekarang (setidaknya di kota saya tinggal). Bisa dibayangkan bagaimana perjuangan untuk mengumpulkan lagu-lagu lbl yang saya saya download melalui berbagai website yang sama sekali bukan file hosting. Ya, saya mendownload file streaming dari sebuah website musik streaming yang untungnya ada seorang user disana yang memiliki koleksi album lbl lengkap. Tanpa banyak basa-basi saya pun langsung mendownload lagu-lagu tersebut dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada si user yang berbaik hati mau berbagi koleksi miliknya. Proses mendownload lagunya sendiri memakan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Si empunya warnet bahkan sudah sampai hapal wajah saya dan lokasi kompi favorit saya (yang sudah saya pasang bermcam-macam software leeching).

Setelah koleksi single, album dan PV-nya lbl milik saya lengkap saya tidak berhenti disitu saja. Saya menjelma menjadi stalker level tinggi dan menstalk blog para personil lbl. Untungnya Hideco bukan tipe yang menyembunyikan wajah di blognya. Hal ini tentu menguntungkan bagi stalker berguna bagi orang yang ingin tahu lebih dekat tentang sosok pribadinya. Dalam waktu singkat koleksi foto Hideco yang saya comot dari blog beliau meningkat pesat. Sampai sekarang pun koleksi tersebut masih tersimpan rapi di folder komputer saya. Karena hal itu lah, saya tidak hanya suka lbl karena musik mereka saja, tapi karena sosok Hideco yang manis 

Pray PV (2008)
Pengalaman mengoleksi lagu-lagu lbl ini mungkin menjadi titik awal ketertarikan saya dengan dunia (musik) Jepang. Setelah kesengsem berat dengan lbl saya mulai mendengar banyak musisi Jepang lainnya seperti Yui Makino dan Maaya Sakamoto. Dari sana lah saya dimulai ketertarikan saya untuk menekuni karir (lol) dalam dunia anime/manga/j-musik secara serius. Little by little adalah gateway drug saya ke dunia per-otakuan (meskipun saya bukan otaku). Bagi saya sendiri, little by little mungkin seperti pendahulu spiritual dari supercell. Meskipun dari segi musik mereka berbeda, namun konsep mereka sama: seorang cewek bersuara merdu + komposer imba. Sampai sekarang saya masih bingung mana yang lebih saya suka, Hideco atau Mbak Nagi?

little by little Discography
Singles:
[2003.12.17] 悲しみをやさしさに
[2004.04.14] LOVE & PEACE
[2004.08.11] 雨上がりの急な坂道
[2005.04.20] シンクロ
[2005.06.08] ハミングバード
[2007.12.05] キミモノガタリ
[2008.05.28] Pray
[?] Never Too Late

Album:
[2005.07.20] Sweet Noodle Pop

Style musik mereka sendiri tidak ada yang istimewa. Hanya saja perpaduan suara imut Hideco dan kepiawaian Tetsuhiko dalam mengaransemen lagu sudah lebih dari cukup. Lagu-lagu mereka sangat easy listening dengan mengedepankan melodi-melodi yang catchy. Lirik-lirik lagu mereka meskipun terkadang tidak masuk akal namun menambah keunikan dari lagu tersebut. Jika anda ingin mencoba mendengarkan lagu-lagu mereka anda dapat mencoba keberuntungan anda di Youtube. Yah sampai sekarang pun masih cukup sulit untuk menemukan lagu-lagu lbl di internet. Saya berencana dalam waktu dekat akan mengupload koleksi album dan single lengkap yang saya punya, semoga saja membuahkan hasil.

Mai (first) 3D waifu. U jelly?
Tidak saya pungkiri lagi kalau little by little sampai sekarang masih tetap saya ingat sebagai band yang membuka jalan bagi saya menjadi diri saya yang sekarang. Mungkin terdengar konyol tapi itulah kenyataan, setidaknya itulah yang saya rasakan. Yah, barangkali kalaupun saya tidak secara kebetulan menonton Naruto pada hari bersejarah itu dan saya tidak mendengar lagunya lbl saya mungkin masih akan tetap menjadi diri saya yang sekarang ini, hanya saja melalui perantara yang berbeda. Yang bisa saya tegaskan adalah saya tidak menyesal sedikitpun menempuh jalan yang sekarang saya lalui ini. End of story.

(Huh, btw sejak kapan tulisan ini jadi wall of text gini. Well, biarlah. Barangkali ada suatu saat nanti dimana saya bakalan manly tears ketika membaca postingan ini lagi)
Dan doi bisa bermain gitar juga. Krauser style!