Showing posts with label IGOW. Show all posts
Showing posts with label IGOW. Show all posts
.::Prologue::.
Lagi-lagi artikel Indie Game of the Week ini mengalami penundaan. Jika ada yang harus disalahkan, Skyrim-lah jawabannya. Entah sudah berapa jam saya habiskan untuk membantai naga-naga dan menangkap kupu-kupu dalam game itu. Yah, mungkin ntar bakal saya tulis review game itu tapi kini mari kembali ke topik. Jika tiga judul game indie yang saya bahas sebelumnya mungkin sudah sering didengar namanya, game yang kali ini akan saya bahas adalah game indie yang menurut saya agak underappreciated berjudul And Yet It Moves. Game ini dikembangkan oleh developer indie asal Austria yang bernama Broken Rules. Game ini bergenre puzzle platformer dengan sedikit "bumbu" agar terlihat beda dari game lainnya. Silakan lanjutkan membaca untuk mengetahuinya.

.::Story::.
Sejauh yang saya tahu, tidak ada unsur cerita dalam game And Yet It Moves ini. Disini player menggerakkan seorang karakter tanpa nama yang hidup di dunia yang tampak terbuat dari serpihan-serpihan kertas. Tujuan utama game ini adalah menggerakkan si karakter menuju akhir level. Cukup simpel, bukan?

.::Gameplay::.
And Yet It Moves adalah sebuah game platform dengan sedikit twist, player dapat memutar dunia game yang ada sejauh 90 atau 180 derajat. Jadi selain menggerakkan karakter ke kiri atau kanan dan melompat seperti layaknya game platform biasa, gamer juga dapat memutar balik dunia biasanya berguna untuk melewati rintangan-rintangan yang ada sepanjang level.

Bagaimana cara player agar menjadikan kemampuan memutar dunia ini berguna? Sebagai contoh yang paling sering ditemukan di sepanjang permainan adalah melewati tebing yang normalnya tidak bisa dilompati. Player dapat melompat dari tebing tersebut dan kemudian memutar dunia sejauh 90 derajat agar dinding tebing tadi dapat dijadikan tempat mendarat yang aman dan karakter yang kita mainkan dapat melanjutkan perjalanannya.

Yang menarik, kemampuan untuk memutar dunia ini tidak bisa di-abuse seenaknya. Misalnya si satu level, sebuah batu besar ditempatkan dengan strategis agar jika player memutar dunia maka batu tersebut akan menimpa karakter yang malang itu. Tentunya mau tak mau kita harus memutar otak untuk mencari jalan teraman untuk melewati sebuah rintangan. 

Hmm teori Newton sepertinya tidak berlaku disini... *splat*
Di dalam game ini, karakter yang kita kontrol tidak bisa melakukan hal selain bergerak ke kanan atau kiri dan melompat. Namun di berbagai level sering dijumpai beberapa hal yang cukup 'berbahaya' yang dapat menyerang player. Nah, bagaimana cara menghindarinya? Dengan kemampuan memutar balik dunia tentunya! Yang jelas rintangan yang ada sangat beragam dan unik sehingga kita harus pintar-pintar mencari jalan keluar dari permasalahan.  

Untungnya meski cukup dapat membuat frustasi sebagian gamer, game ini cukup memaafkan. Banyak checkpoint yang dapat ditemukan di sebuah level, yang tentunya akan disambut baik oleh para gamer yang hobi membuat si karakter menjemput ajalnya.

.::Visual & Audio::.
Jika ada yang indie developer ajarkan kepada saya itu adalah tak perlu grafis yang super-ultra-realistis untuk dapat tampil elegan dan memikat hati gamer. Lihat saja game-game indie sukses seperti Minecraft. Mata yang rabun pun bisa melihat kalau game tersebut memiliki grafis yang tidak bisa dibilang indah. Yang terpenting adalah bagaimana agar tampilan yang dimilikinya mampu tampak beda dan kalau bisa terlihat berseni. 

Hal ini pula yang dipikirkan oleh Broken Rules selaku developer And Yet It Moves. Tampilan visual game mereka direpresentasikan dengan potongan-potongan kertas. Baik itu dunia yang ada maupun makhluk-makhluk di dalamnya. Saya pribadi cukup terkesan dengan tampilan game ini yang menurut saya lumayan fresh dibandingkan game-game lain.

Selain hal diatas, ada satu poin lagi yang saya kagumi dari visualnya yakni tampilan bagkgroundnya yang berkesan surealis. Sedikit banyak mengingatkan saya pada game Yume Nikki. Audionya juga tidak mengecewakan meskipun harus diakui BGM-nya cukup minimalis. Salah satu bagian musik favorit saya adalah ketika tema musiknya berganti menjadi bergaya techno menjelang akhir permainan.

.::Conclusion::.
Judul And Yet It Moves mungkin terkesan asing di telinga gamer-gamer mainstream. Memang game ini seprti kurang mendapat perhatian dari kalangan gamer-gamer biasa. Namun menurut saya game satu ini sangat saya rekomendasi untuk dicoba, apalagi jika anda tipe gamer yang menyenangi puzzle-puzzle sulit. Durasi game ini juga sudah pas, tidak terlalu singkat juga tidak terlalu panjang. Cukup untuk mengisi waktu luang anda, terutama untuk anda yang tak segan untuk jatuh dari ketinggian 20 kaki dan mendarat dengan bunyi "skooch".



.::Next Week on IGOW::.
Behold space opera video game! Nope, just kidding. Yang jelas game yang bakal saya bahas selanjutnya ini sukses membuat frustasi saya dan teman-teman saya yang memainkannya. Kematian di dalam game ini adalah hal yang lumrah.

NB. Developer And Yet It Moves sedang dalam proses mengerjakan game mereka yang kedua berjudul Chasing Aurora. Rencananya game ini bakal dirilis tahun depan. Hmm sepertinya wajib ditunggu nih.
.::Prologue::.
Kembali lagi dengan saya minoru dalam segmen Indie Game Of the Week. Setelah hiatus selama dua minggu akibat beberapa kesibukan real life, kini IGOW kembali dengan sebuah game indie yang pastinya sudah tak asing lagi bagi pembaca blog ini, karena review singkatnya sudah pernah saya bahas beberapa waktu lalu.

Limbo merupakan karya pertama dari developer indie asal Denmark bernama Playdead. Meskipun awalnya game ini merupakan ekslusif untuk Xbox 360, belakangan Limbo juga dirilis di berbagai platform termasuk Mac.   

.::Story::.
Seorang anak terbangun di sebuah tempat yang tampak asing baginya. Tak ada tanda-tanda kehidupan di tempat itu. Ia pun mulai menjelajahi lokasi tersebut hanya untuk menemukan kalau dia sedang berada di tempat yang terletak di antara kehidupan dan kematian yang dipenuhi segala macam bahaya bernama Limbo.

Limbo adalah dunia yang keras. Selain disambut dengan beberapa jebakan beruang yang sanggup memisahkan kepala dari badan, perjalanan si anak juga 'ditemani' oleh laba-laba raksasa dan sekelompok orang yang sepertinya berusaha keras untuk membunuh si anak dengan cara apapun. Namun hal itu tak menghalangi niatnya untuk menemukan kakak perempuannya yang entah bagaimana bisa nyasar ke Limbo.

Yah kira-kira begitulah kisah yang melatar belakangi game Limbo. Ceritanya tidak disampaikan secara ekplisit, mengingat tidak adanya dialog di dalam game ini (andaikan saja game ini dinarasikan oleh narator Bastion). Sang anak (yang sayangnya tidak pernah diberikan nama ofisial) hanya berangkat dari satu lokasi ke lokasi berikutnya sambil menghindari berbagai perangkap kejam dan memecahkan puzzle-puzzle di sepanjang jalan demi satu tujuan: menyelamatkan saudarinya tersebut. Yang jelas anda bisa merasakan dengan gamblang bahwa dunia Limbo bukanlah tempat yang ramah bagi sang anak.

.::Gameplay::.
Gameplay Limbo bisa dibilang simpel. Sebagai game bergenre puzzle-platformer layaknya Braid, Limbo mengaharuskan anda untuk memecahkan puzzle di suatu lokasi untuk bisa melanjutkan ke lokasi berikutnya. Puzzle yang ada beragam, mulai dari yang sederhana seperti mencari cara bagaimana menyeberangi sebuah sungai hingga puzzle yang mengfokuskan pada timing yang mungkin bagi beberapa orang dapat membuat frustasi.

Mau lewat? Langkahi dulut mayatku!
Jangan lupa kalau Limbo adalah game yang brutal. Mati adalah hal yang biasa. Dan kematian si anak biasanya adalah dengan cara yang paling kejam yang pernah anda lihat. Untungnya game ini cukup 'baik' dengan meng-autosave game sebelum anda menemui hal-hal yang dapat menghilangkan nyawa si anak.

Bagi saya sendiri, secara overall puzzle di Limbo tidak sulit. Namun meski begitu tetap saja membuat otak mesti bekerja lebih keras dari biasanya. Setidaknya ada sense of accomplishment yang didapat saat kita menemukan solusi untuk puzzle yang ada. Tidak ada yang lebih memuaskan daripada hal itu.

.::Visual & Audio::.
Limbo menawarkan visual hitam putih yang unik ala film noir. Terlihat simpel memang, tapi hal itu tidak mengurangi nilai seni dari game ini. Selain visual, audio game ini juga dibuat seminimalis mungkin. Hanya sedikit bisa kita dengar alunan background music sepanjang permainan. Namun sound effect dari Limbo benar-benar mendukung suasana dan patut diacungi jempol. Mulai dari hutan yang hening yang hanya suara langkah kaki kita yang terdengar hingga suara mekanikan yang berisik di level area industri. Tidak hanya itu, efek suara saat si anak menemui ajalnya juga cukup memuaskan.

Dengan gaya visual yang monokrom dan sound effect yang minimalis tersebut Limbo digambarkan sebagai game yang atmosferik. Seolah-olah kita sendiri juga turut merasakan ngerinya dunia Limbo. Tak jarang secara tidak kita sadari buluk kuduk merinding saat melihat mayat-mayat yang tergantung atau berserakan di jalan. Sekali lagi, benar-benar atmosferik.

.::Conclusion::.
Limbo mungkin hanyalah satu dari banyak game unik yang muncul dari dunia indie gaming namun saya dapat memastikan kalau Limbo menempati tempat yang lebih tinggi dari game-game lain, setidaknya dalam daftar game favorit saya sendiri. Mungkin hal ini disebabkan karena saya adalah tipe gamer yang menyukai tampilan visual yang lain daripada yang lain. Apalagi ditambah dengan kebrutalan ala finishing move Mortal Kombat yang terkadang harus diakui cukup mengerikan. Meskipun demikian durasi yang singkat serta ending yang mungkin kurang memuaskan mengurangi nilai plus game ini. Namun hal tersebut bukanlah alasan yang dapat menghalangi anda untuk memainkan Limbo, salah satu pengalaman gaming yang tak akan terlupakan untuk waktu yang lama. 



.::Next Week on IGOW::.
Game dengan konsep unik dimana anda dapat memutar dunia yang ada di dalam game sesuka hati. Dan apakah saya menyebutkan kalau dunia beserta karakter yang ada terbuat dari serpihan-serpihan kertasE pur si muove!
.::Prologue::.
Seperti yang telah saya jelaskan di edisi minggu lalu, Braid adalah game yang mulai membuka mata dunia terhadap game indie yang sebelumnya dipandang dengan sebelah mata. Inilah game yang mengenalkan sekaligus memulai ketertarikan saya pada dunia indie gaming. Hingga kini Braid menjadi salah satu game favorit saya sepanjang masa.

Braid tercipta dari tangan seorang indie developer bernama Jonathan Blow. Game ini sukses merebut perhatian banyak kalangan karena konsep gameplaynya yang unik serta tampilan visual yang indah. Entry di halaman Wikipedia mengkategorikan Braid sebagai art game.

.::Story::.
Braid berkisah tentang seorang pria bernama Tim yang bertekad menyelamatkan tuan putri dari "cengkraman monster yang jahat dan mengerikan". Dijelaskan bahwa di masa lalu Tim membuat sebuah kesalahan dan ia berniat memperbaiki kesalahan itu, bahkan kalau bisa menghapusnya. Plot dari Braid hanya dapat kita ketahui dari kumpulan teks yang terdapat di awal sebuah level. Tidak ada dialog yang diucapkan Tim.

Cerita dalam Braid tidak pernah dijelaskan secara eksplisit melainkan penuh dengan metafora. Apa yang terjadi di dalam Braid bebas diinterpretasikan oleh diri kita masing-masing. Demikian juga dengan yang terjadi pada endingnya, yang menurut saya merupakan salah satu ending video game terbaik yang pernah ada. Percayalah, ketika anda memainkan Braid dan menonton endingnya maka anda akan berpikir bahwa anda baru saja menyelesaikan sebuah game masterpiece.

Mungkin plot yang ambigu ini juga lah yang menjadi sedikit nilai minus pada Braid. Cerita seperti ini bukanlah konsumsi orang sembarangan. Saya pikir kisah dalam Braid penuh dengan filosofis-filosofis yang di satu sisi sederhana, namun di sisi lainnya cukup dewasa. Tak tertutup kemungkinan anda sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya dikisahkan dalam Braid, kecuali dengan membaca penjelasan mendalam yang merupakan spekulasi dari fans. Dan jangan terkejut jika apa yang anda baca jauh berbeda dengan apa yang anda pikirkan mengenai endingnya.

.::Gameplay::.
Dari segi gameplay, Braid benar-benar bersinar terang. Braid secara umum adalah game puzzle/platformer ala Super Mario Bros. Bahkan Braid tak malu-malu mengakui bahwa game tersebut terinspirasi dari Mario yang mana ditunjukkan pada musuh yang dibunuh dengan cara dilompati, tumbuhan karnivora yang muncul dari pipa hijau, serta pesan "Your princess is in another castle".

Namun hanya sampai situ saja kesamaan tersebut. Fokus utama dalam game ini adalah bagaimana Tim dapat mendapatkan potongan-potongan jigsaw puzzle yang tersebar di tiap level. Tantangannya selain tentu saja musuh tadi adalah desain level yang luar biasa imajinatif.

Tim memiliki kemampuan untuk memanipulasi waktu ala Prince of Persia. Awalnya saya berpikir kalau kemampuan ini hanyalah perlu digunakan untuk me-rewind saat-saat kematian Tim. Tapi ternyata semakin lama kemampuan ini juga digunakan untuk memecahkan puzzle-puzzle yang ada.

Tiap level memiliki mekanisme puzzle yang berbeda dan semuanya berhubungan dengan waktu. Sebagai contoh di sebuah level gerakan waktu semua yang ada di level itu ditentukan oleh gerakan Tim. Jika Tim bergerak maju, waktu berjalan seperti biasa dan jika Tim mundur maka waktu juga berjalan mundur. Selain itu ada juga level dimana Tim dapat membuat doppelganger atau kopian dari dirinya dengan cara me-rewind waktu. Semua mekanisme ini diperlukan untuk memecahkan seluruh puzzle yang terdapat di dalam game 

*insert Mario Bros theme here*
Sebagai seorang gamer yang menyenangi game-game puzzle, saya dapat katakan kalau saya sangat terkesan dengan puzzle-puzzle yang ada di Braid. Hampir semua puzzle disini amat kompleks dan membutuhkan pemikiran di luar kotak. Beberapa puzzle terlihat sederhana dari luar namun nyatanya diperlukan sebuah penyelesaian logis yang terkadang hampir tak terpikirkan oleh kita.

Meskipun puzzle yang ada dapat begitu sulit untuk dipecahkan tapi untungnya Braid tidak mengenal kata game over. Hal ini tentu dapat mengurangi rasa frustasi yang ada. Di balik itu semua, memecahkan puzzle yang ada dalam Braid menimbulkan kepuasan tersendiri dalam diri saya, sesuatu yang belakangan mulai jarang ditemukan dalam game-game yang beredar di pasaran. 

.::Visual & Audio::.
Penampilan visual dan audio Braid benar-benar indah. Kita disuguhkan oleh tampilan ala lukisan cat minyak yang begitu menawan ditemani oleh alunan soundtrack yang dreamy. Tiap level memiliki tema visual yang berbeda-beda sehingga selalu menarik serta unik untuk dilihat. Singkat kata, presentasi visual dan audio dari Braid menambah panjang daftar kelebihan yang dimiliki game ini.

.::Conclusion::.
Satu kata buat Braid: masterpiece! Kombinasi sempurna antara gameplay yang inovatif, tingkat kesulitan yang dapat ditoleransi, plot yang dipenuhi kiasan serta tampilan visual dan audio yang artistik membuat Braid santapan wajib bagi anda yang menginginkan game yang tidak sekedar intelektual melainkan juga indah. Dunia game butuh lebih banyak video game seperti ini dan saya berharap semoga di masa mendatang akan muncul lebih banyak game-game lain yang juga akan dikenang sepanjang masa, seperti halnya Braid.



.::Next Week on IGOW::.
Demi mencari kakaknya, seorang anak memasuki dunia yang berada di antara kehidupan dan kematian. Dunia tersebut bukanlah tempat yang ramah dan sang anak mesti bersiap menghadapi beragam makhluk-makhluk berbahaya serta jebakan-jebakan maut yang dapat membunuhnya dengan seketika.
.::Prologue::.
Di kalangan fans game-game indie, ada satu judul game yang diakui sebagai tonggak awal kesuksesan game indie, yaitu Braid. Game legendaris itu hingga saat ini masih terus dipuji oleh kritikus dan acap kali dijadikan ukuran kesuksesan game indie lainnya. Namun kini muncul saingan baru bagi Braid dalam bentuk sebuah game action yang dipadukan dengan elemen-elemen RPG yang berjudul Bastion.

Bastion dikembangkan oleh sebuah developer indie bernama Supergiant Games. Game ini merupakan karya perdana mereka di kancah indie. Game ini dirilis di konsol Xbox 360 dan PC.

.::Story::.
Dunia dikatakan mengalami apa yang disebut Calamity. Calamity lebih dari sekedar bencana nuklir biasa. Calamity tidak hanya meluluhlantakkan daratan namun juga memecahkannya sehingga dunia kini terpisah-pisah menjadi pulau-pulau yang melayang di udara. Selain itu hampir seluruh populasi manusia kini berubah menjadi patung batu. Hanya ada beberapa orang yang selamat dari musibah Calamity ini.

Tokoh utama dalam game ini dipanggil The Kid. Ia terbangun mendapati dunia sudah tak sama lagi. Dipandu oleh sebuah suara misterius, The Kid bergerak menuju suatu tempat yang disebut Bastion, satu-satunya tempat dimana harapan dapat ditemukan. Di Bastion, The Kid bertemu dengan seorang kakek tua yang juga selamat dari musibah Calamity. Rucks, begitu ia dipanggil, adalah suara yang membimbing perjalanan The Kid tadi. Rucks kemudian mengatakan bahwa semua hal ini dapat kembali seperti semula, dengan syarat The Kid harus mengumpulkan potongan-potongan kristal yang tersebar di berbagai tempat.

Maka The Kid pun melakukan perjalanan untuk mengumpulkan potongan-potongan kristal ke berbagai lokasi, sekaligus mencari apakah ada survivor lainnya yang selamat dari Calamity.

.::Gameplay::.
Bastion adalah game action RPG dimana player mengalahkan musuh untuk mendapat experience point. Player dapat menggunakan berbagai macam kombinasi senjata untuk mengalahkan musuh yang bervariasi. Senjata ini nantinya dapat diupgrade sesuai kebutuhan. Senjata yang ada beragam mulai dari senjata melee seperti martil besar yang berat namun damagenya juga besar, pedang kecil yang memiliki attack speed tinggi atau tombak yang memiliki jangkauan panjang hingga senjata range seperti dual pistol, musket dan bahkan mortar!

Selain senjata The Kid juga dapat menggunakan berbagai skill khusus yang dapat dipelajari. Skill-skill khusus ini biasanya tergantung dengan senjata yang dipakai.

TUSUK MENUSUK jadi lebih mudah
Level-level di Bastion cukup beragam. Uniknya disini perjalanan The Kid di tiap level dipandu oleh suara sang narator/Rucks. Jadi apapun yang dilalui atau dilakukan The Kid akan dideskripsikan oleh narator (yang disuarakan oleh Logan Cunningham) secara dinamis. Suara sang narator yang terkesan manly ini membuat perjalanan di tiap level menjadi lebih berwarna. Entah itu karena celoteh-celotehnya yang filosofis ataupun juga karena bagaimana ia menggambarkan desain tiap level yang ada.

Meskipun tidak dapat dipungkiri jika Bastion dapat diselesaikan dengan singkat namun jangan salah, game ini memiliki replayability yang cukup tinggi. Salah satu alasannya adalah pilihan senjata yang beragam tadi. Tiap player pasti memiliki kombo yang berbeda. Atau karena beda jenis musuh beda pula senjata yang cocok untuk menghabisinya. Saya sendiri pada playthrough pertama saya tak pernah lepas dari War Machete dan Scrap Musket kesayangan. Selain dari senjata, ada suatu fitur in-game yang dapat menambah semacam handicap bagi mereka yang ingin agar game menjadi lebih sulit. Dan yang pasti ada fitur New Game+ yang menyimpan senjata dan upgrade untuk playthrough selanjutnya.

.::Visual & Audio::.
Sulit menjelaskan visual Bastion dengan kata-kata lain selain luar biasa. Menurut tim developer, visual Bastion terinspirasi dari style anime. Namun menurut saya sendiri art Bastion bagaikan keluar dari buku cerita bergambar yang sering saya baca sewaktu kecil dulu. Dengan visual seperti itu Bastion menampilkan semacam kesan nostalgia yang mendalam. Desain yang indah ini terkadang membuat lupa bahwa dunia dalam Bastion baru saja terkena bencana dahsyat.

Satu hal lain yang membuat saya terpukau adalah soundtracknya yang sangat memorable. Penggambarannya begini: jika saya mendengar satu track dari Bastion OST, ingatan saya langsung menuju ke level dimana soundtrack tersebut dimainkan. Tidak hanya itu, beberapa insert song dari game ini juga saya yakin tak bakal mudah untuk dilupakan. Salah satunya adalah dari ending theme berjudul Setting Sail, Coming Home:
I set my sail
Fly, the wind it will take me
Back to my home, sweet home

Lie on my back
Clouds are makin' way for me
I'm comin' home, sweet home

.::Conclusion::. 
Bukan hal yang berlebihan jika saya katakan kalau Bastion adalah salah satu game indie terbaik yang pernah dibuat. Bastion bahkan lebih dari sekedar game biasa, Bastion berhasil membuktikan jika video game juga termasuk karya seni. Sebuah karya indah yang apapun ceritanya wajib anda mainkan.


.::Next Week on IGOW::.
Petualangan sang "pangeran" dalam mencari "tuan putri". Oh dan sang "pangeran" memiliki kekuatan untuk memanipulasi waktu. Bukan, ini bukan Prince of Persia.
Pic not related
Oke, ini adalah proyek blogging saya yang pertama. MINORU'S BLOG akan menghadirkan sebuah segmen mingguan baru berjudul "Indie Game of the Week" atau IGOW. Jadi segmen ini bakal muncul tiap akhir pekan dan akan membahas satu game indie tiap pekannya. Proyek ini akan dimulai dari minggu ini dan (semoga) akan berlanjut terus ke minggu-minggu berikutnya. Postingan Week 1 sudah bisa anda nikmati beberapa saat lagi.

Untuk lebih lanjut mengenai game indie silakan baca postingan berjudul Kebangkitan Era Indie Gaming

(NB: Tidak, saya tidak akan menyediakan link download kecuali kalau game tersebut memang gratis)

Indie Game Of the Week
Week 1 - Bastion
Week 2 - Braid
Week 3 - Limbo
Week 4 - And Yet It Moves
Week 5 - ?