Kebangkitan Era Indie Gaming

/
2 Comments
Popularitas dari game-game indie belakangan makin menanjak. Mereka yang dulunya hanya eksis di PC kini merambah ke konsol yang memiliki konektivitas online seperti Xbox 360 dengan XBLA dan Playstation 3 dengan PSN-nya. Namun tentu saja game-game indie masih tidak melupakan asal usulnyanya yakni PC. Ini dapat dilihat dari jumlah game indie yang lebih banyak 'bersarang' di PC dan kebanyakan gratis alias tidak perlu bayar. Game-game indie juga telah memasuki platform handheld dan mobile, seperti Angry Birds.

Braid (2009), Jonathan Blow
Game indie dapat didefinisikan sebagai game yang dikembangkan baik oleh seorang individu maupun tim yang independen tanpa didukung oleh adanya dana dari publisher. Karena hal itu, developer game indie bebas mengembangkan game mereka sesuai dengan kreativitas tak terbatas beda halnya game-game komersil pada umumnya dimana publisher terkadang membatasi developer sesuai dengan kemauan mereka. Developer game indie biasanya terdiri dari tim kecil atau bahkan hanya satu orang dan memiliki bujet yang tidak terlalu besar. Mereka tidak bergantung kepada kucuran dana publisher sehingga game indie kebanyakan didistribusikan secara online via digital distribution.

Game-game indie umumnya dikenal dengan inovasi dan kreativitasnya. Game-game indie kadangkala ada yang sama sekali jauh dari kesan konvensional. Hal ini dapat dilihat dari game-game seperti Crayon Physics Deluxe, Yume Nikki atau VVVVVV. Game indie juga jarang memiliki grafis 3D yang mewah seperti halnya game-game pada umumnya. Namun hal itu ditutupi oleh tampilan visual yang artistik dan gameplay yang inovatif. Genre-genre dari game indie yang umum biasanya adalah puzzle, platforming, dan adventure. Namun ada juga genre lain seperti RPG, FPS, atau bahkan ultimate sandbox seperti halnya Minecraft.

Machinarium (2009), Amanita Design
Salah satu hal yang membuat indie game begitu menarik adalah bagaimana sebuah game itu diciptakan dengan tujuan menghibur gamer yang memainkannya, karena pada dasarnya itulah tujuan kita bermain game. Namun belakangan ini kita bisa melihat bagaimana industri game telah berkembang pesat, dimana perputaran uang begitu cepat sehingga acap kali membuat para publisher-publisher besar menutup mata demi meraup keuntungan yang sebesar-besarnya dari para fans. Salah satu contoh yang bisa saya berikan adalah franchise The Sims, dimana awalnya merupakan game yang berkualitas kini semakin lama semakin jauh dari kesan itu dikarenakan EA tak habis-habisnya merilis expansion pack yang jumlahnya begitu banyak.

Secara teori developer lah yang memegang kuasa atas pengembangan sebuah game. Namun kenyataannya tak jarang publisher turut ikut campur dan bahkan mengekang kebebasan sang developer dalam berkarya. Nah dalam dunia game indie hal tersebut tak terjadi. Seorang developer indie bebas mengutarakan ekspresi mereka ke dalam game yang mereka buat. Tak jarang mereka berani mengambil resiko dalam pengembangan gamenya dimana hal tersebut jarang terjadi di game non-indie. Ambil contoh game Minecraft. Game yang telah dimainkan oleh lebih dari 9 juta orang ini (dan bahkan gamenya masih versi beta!) adalah buah karya dari sang developer Markus "Notch" Persson yang berani bereksperimen dengan gamenya. Game seperti halnya Minecraft ini mungkin tidak bakal terpikir oleh perusahaan game yang hanya mementingkan keuntungan semata (game dengan grafis retro kotak-kotak? apakah itu akan terjual?).

Super Meat Boy (2010), Team Meat
Seperti yang saya utarakan di awal tadi popularitas game indie semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat dari komunitas game indie di dunia maya yang makin lama makin menjamur. Selain itu event-event seperti Indie Games Festival dan Indiecade juga turut mengangkat kepopuleran game indie. Di event-event tersebut lah game-game indie mendapatkan apresiasi baik dari kalangan kritikus maupun gamer. Banyak game-game indie yang berhasil merebut penghargaan di event IGF kini mendapat perhatian di kalangan gamer.

Saya sendiri baru mulai menyadari betapa mengesankannya game-game indie pada 2010 lalu. Game yang pertama saya mainkan ialah Recettear. Saya pun mulai melakukan riset di internet mengenai indie game dan menemui berbagai macam game-game luar biasa seperti World of Goo, Machinarium, dan Braid yang belakangan jadi favorit saya. Saya umumnya menyukai game indie karena gameplaynya yang menantang serta adiktif dan yang utama: tidak memerlukan spesifikasi komputer yang tinggi. Ya, kebanyakan game indie memang tidak membutuhkan kommputer super untuk menjalankannya. Game-game indie juga tidak memakan space HDD yang besar, rata-rata hanya memerlukan seratusan MB.

Di Indonesia sendiri perkembangan game indie sayangnya masih belum begitu pesat. Namun ada juga yang sudah menerbitkan game secara komersil seperti Etherean Guardian dengan Ethernal Grace-nya. Selain dari itu game indie Indonesia masih didominasi oleh game-game flash yang dihost ke berbagai website game flash. Tapi jangan salah, cukup banyak developer game flash Indonesia yang sudah bekerja tetap di perusahaan-perusahaan game asing. Hal ini tentunya cukup membanggakan.

Cave Story (2004), Studio Pixel
Berikut adalah kutipan dari sebuah majalah game yang pernah saya baca: "Sebuah indie game yang baik tidak pernah diciptakan untuk sebuah demografik, game-game ini diciptakan dengan semangan dari pihak developer, sebuah semangat yang mampu mempengaruhi pemain ketika sedang bermain game tersebut."

Ya, industri game indie akan semakin terus berkembang dan kualitas game-gamenya pun akan semakin meningkat bahkan mungkin suatu saat nanti akan disejajarkan dengan game-game kelas dunia dari Blizzard, Valve ataupun Microsoft. Maju terus industri game indie!

NB: Nantikan tulisan berikutnya mengenai rekomendasi game-game indie yang patut anda mainkan. Stay tune.

2 comments :

  1. Cave Story FTW!!!
    (nice review bro)

    ReplyDelete
  2. Hehe thanks! Cave Story memang salah satu game indie yang legendaris, gratis lagi!

    ReplyDelete