Review: Limbo

/
12 Comments
Akhir-akhir ini saya terpikat pada sebuah game indie berjudul Limbo. Limbo adalah salah satu game indie legendaris di Xbox Live Arcade yang telah lama saya penasaran ingin mencobanya namun tidak pernah kesampaian. Untunglah game ini akhirnya dirilis di juga PC via Steam pada awal Agustus lalu dan saya berkesempatan menjajal game yang telah saya nanti-nantikan sejak lama ini.

Hal pertama yang menarik perhatian pada saat memainkan Limbo adalah tampilan visualnya yang unik dimana game ini ditampilkan secara monokrom layaknya sebuah film noir. Segala hal yang ada di dalam game ini dapat dilihat hanya merupakan sebuah siluet, baik itu sang tokoh utama maupun suasana sekitarnya. Namun segala hal di game ini ditampilkan secara luar biasa detail dan begitu indah, bahkan terkadang sampai membuat saya merinding karena juga menakutkan (err istilah Inggrisnya hauntingly beautiful). Hal ini kembali mengingatkan saya pada opini "videogame adalah sebuah karya seni" yang belakangan kembali sering disuarakan oleh para gamer yang antusias.

Limbo bercerita tentang... well tentang apa saya juga bingung. Yang jelas ada seorang anak (si tokoh utama) yang terbangun di sebuah hutan. Sang anak kemudian menjelajahi hutan tersebut yang ternyata dipenuhi dengan segala macam bahaya dan teka teki. Meski sebab dan tujuan mengapa si anak bisa terdampar di hutan gelap nan menakutkan itu kurang jelas, perlahan lahan kita mulai menyadari kalau si anak sedang berada di tempat yang tidak biasa atau dengan kata lain bukanlah dunia yang kita tempati sekarang ini. Belakangan saya akhirnya tahu bahwa tujuan si anak adalah menemukan kakaknya yang entah bagaimana bisa nyasar ke tempat yang bernama LIMBO itu.

Sebagai game bergenre puzzle-platformer, Limbo berfokus kepada beberapa puzzle yang awalnya sederhana dan lama kelamaan semakin rumit. Puzzle-puzzle ini bervariasi, mulai dari yang basic seperti sorong menyorong balok hingga yang cukup kompleks dengan memanfaatkan timing loncatan ataupun gaya gravitasi (yang ini mengingatkan saya pada game indie lain berjudul VVVVVV). Terdapat juga jebakan-jebakan standar yang sering ditemukan di dalam game Prince of Persia seperti spikes atau bear traps bahkan turrets. Kita juga akan menemui beberapa musuh seperti seekor laba-laba besar (benar-benar BESAR) atau sekumpulan orang-orang gila yang berusaha membunuh si karakter utama.


Saya tekankan disini kalau game ini sangat gelap. Bukan hanya dari tampilan visualnya saja namun juga pada atmosfer dan beberapa hal yang ditemui di dalam game jelas-jelas bukan konsumsi anak di bawah umur. Sering kali si karakter utama menemui ajalnya secara brutal, seperti ditusuk oleh laba-laba raksasa, terbelah dua oleh jebakan spike atau remuk ditimpa batu besar. Di sepanjang permainan terkadang dapat ditemukan sosok mayat yang entah digantung atau menggantung diri. Dan musiknya yang minimalis disertai efek suara terkadang membuat bergidik. Oh ya saya lupa memberi tahu jika di game ini sama sekali tidak ada teks dan dialog. Kita mungkin tidak akan pernah paham apa yang sebenarnya terjadi.

Game yang cukup singkat ini terbagi-bagi dalam beberapa chapter. Tidak ada loading saat berganti chapter, kita bahkan mungkin tidak sadar ketika memasuki chapter baru. Save game dilakukan secara otomatis, terutama ketika ada puzzle di depan mata. Jika si tokoh utama mati, biasanya akan reload di tempat dimana dia terakhir berdiri. Memang dibutuhkan beberapa kali try dan error untuk dapat memahami cara kerja sebuah puzzle namun saya merasa puzzle yang ada tidak terlampau sulit.

Ada beberapa indie game yang saya kategorikan sebagai masterpiece dan kini Limbo adalah salah satunya. Feeling yang saya dapat saat bermain game ini persis seperti saat saya memainkan game indie legendaris lain yakni Braid. Memang Limbo tidak se-filosofis Braid dari segi penceritaan namun jelas dari segi estetika game ini dapat mengimbanginya. Dan ending dari Limbo yang ambigu membuat kita bebas menanggapinya sesuai intepretasi kita masing-masing (saya ketemu dengan sebuah site yang mendiskusikan ending tersebut disini spoiler alert btw).

Akhir kata, game ini layak dimainkan buat mengisi waktu luang atau sambil menunggu-nunggu waktu berbuka bagi yang muslim. Namun patut digarisbawahi puzzle yang ada cukup dapat menimbulkan frustasi jika anda tipe yang tidak sabaran. Limbo makin meyakinkan saya kalau dunia indie gaming tidak lagi bisa dipandang sebelah mata.

Beberapa screenshot lain:
 
 
Dan terakhir trailer:

12 comments :

  1. This is relevant to my interest. Berapa lama play timenya?

    ReplyDelete
  2. Kalo anda lancar memecahkan puzzlenya total play timenya nggak akan lebih dari 3-4 jam. Ya, lumayan singkat memang. Tapi sebanding dengan ukuran game yang hanya sekitar 90-an MB.

    ReplyDelete
  3. sebenarnya mereka berdua telah mati
    tidak terlalu baik untuk kesurga
    dan tidak terlalu jahat untuk keneraka

    ReplyDelete
  4. Game nya bener2 cukup nguras kesabaran. Saya sempet nangis karena frustasi dengan game ini ��baru kali ini ada game yg bisa bikin emosi sampai nangis. But akhirnya bisa selesai dalam waktu 3hr �� love this game ����

    ReplyDelete
  5. @brey Brenda
    Saya juga sempet frustasi di beberapa bagian :)
    Untungnya pengalaman bertahun-tahun memainkan game sulit (baca: sebagai maso) cukup untuk membawa saya bertahan hingga ke endingnya.

    ReplyDelete
  6. Kalau gue bisa nyelesaikan nya 65 menit.Soalnya gua main di Android jadi gak susah buat ngontrol pemainnya,jebakannya juga gak sulit amat,cuma yang malesin itu cuma mesin pemotong yang mutar mutar itu aja. -_- Lumayan lah,ngelatih kesabaran juga. :3

    ReplyDelete
  7. @Razor GTR
    wogh mantap 65 menit.

    Ane nyobain replay beberapa waktu lalu tetap 2 jam-an juga. Sempat lupa di beberapa puzzle haha.

    ReplyDelete
  8. Baru main .. Selesainya 4 jam... Klo di pikir2 sampe 65 menit ��������.

    ReplyDelete
  9. Yg lbh sulit di level rahasianya.yg hrs ngumpulin 10 telur dulu agar pintu rahasia itu terbuka

    ReplyDelete