Week 1 - Bastion

/
4 Comments
.::Prologue::.
Di kalangan fans game-game indie, ada satu judul game yang diakui sebagai tonggak awal kesuksesan game indie, yaitu Braid. Game legendaris itu hingga saat ini masih terus dipuji oleh kritikus dan acap kali dijadikan ukuran kesuksesan game indie lainnya. Namun kini muncul saingan baru bagi Braid dalam bentuk sebuah game action yang dipadukan dengan elemen-elemen RPG yang berjudul Bastion.

Bastion dikembangkan oleh sebuah developer indie bernama Supergiant Games. Game ini merupakan karya perdana mereka di kancah indie. Game ini dirilis di konsol Xbox 360 dan PC.

.::Story::.
Dunia dikatakan mengalami apa yang disebut Calamity. Calamity lebih dari sekedar bencana nuklir biasa. Calamity tidak hanya meluluhlantakkan daratan namun juga memecahkannya sehingga dunia kini terpisah-pisah menjadi pulau-pulau yang melayang di udara. Selain itu hampir seluruh populasi manusia kini berubah menjadi patung batu. Hanya ada beberapa orang yang selamat dari musibah Calamity ini.

Tokoh utama dalam game ini dipanggil The Kid. Ia terbangun mendapati dunia sudah tak sama lagi. Dipandu oleh sebuah suara misterius, The Kid bergerak menuju suatu tempat yang disebut Bastion, satu-satunya tempat dimana harapan dapat ditemukan. Di Bastion, The Kid bertemu dengan seorang kakek tua yang juga selamat dari musibah Calamity. Rucks, begitu ia dipanggil, adalah suara yang membimbing perjalanan The Kid tadi. Rucks kemudian mengatakan bahwa semua hal ini dapat kembali seperti semula, dengan syarat The Kid harus mengumpulkan potongan-potongan kristal yang tersebar di berbagai tempat.

Maka The Kid pun melakukan perjalanan untuk mengumpulkan potongan-potongan kristal ke berbagai lokasi, sekaligus mencari apakah ada survivor lainnya yang selamat dari Calamity.

.::Gameplay::.
Bastion adalah game action RPG dimana player mengalahkan musuh untuk mendapat experience point. Player dapat menggunakan berbagai macam kombinasi senjata untuk mengalahkan musuh yang bervariasi. Senjata ini nantinya dapat diupgrade sesuai kebutuhan. Senjata yang ada beragam mulai dari senjata melee seperti martil besar yang berat namun damagenya juga besar, pedang kecil yang memiliki attack speed tinggi atau tombak yang memiliki jangkauan panjang hingga senjata range seperti dual pistol, musket dan bahkan mortar!

Selain senjata The Kid juga dapat menggunakan berbagai skill khusus yang dapat dipelajari. Skill-skill khusus ini biasanya tergantung dengan senjata yang dipakai.

TUSUK MENUSUK jadi lebih mudah
Level-level di Bastion cukup beragam. Uniknya disini perjalanan The Kid di tiap level dipandu oleh suara sang narator/Rucks. Jadi apapun yang dilalui atau dilakukan The Kid akan dideskripsikan oleh narator (yang disuarakan oleh Logan Cunningham) secara dinamis. Suara sang narator yang terkesan manly ini membuat perjalanan di tiap level menjadi lebih berwarna. Entah itu karena celoteh-celotehnya yang filosofis ataupun juga karena bagaimana ia menggambarkan desain tiap level yang ada.

Meskipun tidak dapat dipungkiri jika Bastion dapat diselesaikan dengan singkat namun jangan salah, game ini memiliki replayability yang cukup tinggi. Salah satu alasannya adalah pilihan senjata yang beragam tadi. Tiap player pasti memiliki kombo yang berbeda. Atau karena beda jenis musuh beda pula senjata yang cocok untuk menghabisinya. Saya sendiri pada playthrough pertama saya tak pernah lepas dari War Machete dan Scrap Musket kesayangan. Selain dari senjata, ada suatu fitur in-game yang dapat menambah semacam handicap bagi mereka yang ingin agar game menjadi lebih sulit. Dan yang pasti ada fitur New Game+ yang menyimpan senjata dan upgrade untuk playthrough selanjutnya.

.::Visual & Audio::.
Sulit menjelaskan visual Bastion dengan kata-kata lain selain luar biasa. Menurut tim developer, visual Bastion terinspirasi dari style anime. Namun menurut saya sendiri art Bastion bagaikan keluar dari buku cerita bergambar yang sering saya baca sewaktu kecil dulu. Dengan visual seperti itu Bastion menampilkan semacam kesan nostalgia yang mendalam. Desain yang indah ini terkadang membuat lupa bahwa dunia dalam Bastion baru saja terkena bencana dahsyat.

Satu hal lain yang membuat saya terpukau adalah soundtracknya yang sangat memorable. Penggambarannya begini: jika saya mendengar satu track dari Bastion OST, ingatan saya langsung menuju ke level dimana soundtrack tersebut dimainkan. Tidak hanya itu, beberapa insert song dari game ini juga saya yakin tak bakal mudah untuk dilupakan. Salah satunya adalah dari ending theme berjudul Setting Sail, Coming Home:
I set my sail
Fly, the wind it will take me
Back to my home, sweet home

Lie on my back
Clouds are makin' way for me
I'm comin' home, sweet home

.::Conclusion::. 
Bukan hal yang berlebihan jika saya katakan kalau Bastion adalah salah satu game indie terbaik yang pernah dibuat. Bastion bahkan lebih dari sekedar game biasa, Bastion berhasil membuktikan jika video game juga termasuk karya seni. Sebuah karya indah yang apapun ceritanya wajib anda mainkan.


.::Next Week on IGOW::.
Petualangan sang "pangeran" dalam mencari "tuan putri". Oh dan sang "pangeran" memiliki kekuatan untuk memanipulasi waktu. Bukan, ini bukan Prince of Persia.

4 comments :

  1. nice review
    jadi ini game yg dimainkan kai ma faticant...
    tapi sepertinya ntar ulasan anda game barat semua ya?

    ReplyDelete
  2. Tenang aja, selama game indie tersebut bagus saya bakal ulas kok, nggak mesti selalu game barat.

    ReplyDelete
  3. Man, ini salah satu game yang kepengen kumainin, tapi belum kesampeian karena belum sempet dan juga belum ada PC yang kuat.

    Ngebacanya, aku banyak keinget ama Dewprism di PSX.

    ReplyDelete
  4. Actually ini ga terlalu berat kok, saya aja cuma maen di laptop dengan spek pas2an.

    ...belum pernah maen Dewprism..

    ReplyDelete